Mengenal Fisiologi di Balik HIFT: Mengapa Setiap Cabang Membentuk Atlet yang Berbeda?

Ilmu OlahragaLatihan dan Kondisi Fisik

Kini olahraga kebugaran (fitness) menjadi cabang olahraga yang dikompetisikan. Sebut saja HYROX yang sedang populer di Indonesia, muncul ATHX, XENOM, GRID, dan lain-lain. Mereka semua sebenarnya berasal dari Open Gym (OG), yaitu CrossFit. Semuanya menggunakan gerakan yang hampir sama, namun membentuk atlet-atlet yang berbeda. Kelompok cabang olahraga ini sering disebut juga High Intensity Functional Training (HIFT). Mari kita bahas lebih dalam mengenai fisiologi di balik setiap metode latihannya dan apa artinya pada proses latihan.

Sistem Energi: Bagaimana Tubuh Menghasilkan Energi?

Kita mengulas dari biokimia dasar, yaitu sistem energi. Energi otot, ketika otot berkontraksi, diproduksi dari pemecahan karbohidrat, lemak, dan protein yang kemudian menghasilkan Adenosine Triphosphate (ATP). Proses tersebut juga menghasilkan panas dan produk metabolisme seperti karbon dioksida (CO₂), air, laktat, dan ion hidrogen (H⁺). ATP kemudian digunakan di dalam otot untuk mengaktifkan actin-myosin cross-bridges yang berperan dalam menghasilkan gaya dan gerak. ATP ini perlu dihasilkan dan didaur ulang secara terus-menerus untuk mempertahankan tubuh tetap bekerja.

Anggap ATP sebagai mata uang sel. Permintaan ATP meningkat selama latihan, dan semua sistem energi bekerja bersama untuk mempertahankan level ATP pada otot sestabil mungkin.

Gambar 1. Berbagai jenis cabang olahraga HIFT dan dominasi sistem energinya.
Sumber: WODScience.

Tubuh mempunyai mekanisme untuk menghasilkan energi (ATP) secara kontinu yang meliputi:

  1. Sistem fosfokreatin (Phosphocreatine System)
    ATP dapat dihasilkan dengan sangat cepat sehingga energi yang dikeluarkan bersifat powerful dan eksplosif, namun kapasitasnya terbatas dan dominan pada aktivitas yang berlangsung sangat singkat, sekitar beberapa detik.
  2. Sistem glikolisis
    ATP dapat dihasilkan dengan cepat dan mendukung aktivitas dengan intensitas tinggi. Sistem ini tidak secara langsung membutuhkan oksigen dalam proses penyediaan ATP sehingga sering disebut sebagai sistem anaerobik. Kontribusinya meningkat pada aktivitas dengan durasi sekitar puluhan detik hingga beberapa menit.
  3. Oksidatif fosforilasi (Oxidative Phosphorylation)
    Tubuh mulai sangat bergantung pada proses yang menggunakan oksigen untuk menghasilkan energi. Sistem ini menghasilkan ATP dengan laju yang lebih rendah dibandingkan sistem fosfokreatin dan glikolisis, tetapi memiliki kapasitas yang jauh lebih besar sehingga berperan penting pada aktivitas yang berlangsung lebih lama.
  4. Oksidasi lemak (Fat Oxidation)
    Ketika durasi aktivitas semakin panjang, kontribusi oksidasi lemak terhadap penyediaan energi semakin besar. Sistem ini memiliki kapasitas energi yang sangat besar dan dapat mendukung aktivitas dalam durasi yang panjang, bahkan hingga berjam-jam.

Tiap olahraga punya dominasi sistem energinya masing-masing menurut karakter aktivitasnya, apakah membutuhkan power dan strength yang tinggi atau tidak, serta berapa lama durasi cabangnya.

Perbedaan Karakteristik Cabang Olahraga HIFT

Tabel 1. Perbedaan karakteristik cabang olahraga High Intensity Functional Training (HIFT).

Tingkat Keterampilan (Skills) dan Keterukuran

Berdasarkan karakteristik masing-masing cabang olahraga, tingkat keterampilan (skills) dan tingkat keprediksian atau keterukuran berbeda satu sama lain. Kita ambil cabang yang populer di Indonesia yaitu CrossFit dan HYROX. CrossFit membutuhkan keterampilan (skills) yang tinggi dengan hasil yang lebih sulit diprediksi, sedangkan HYROX tidak membutuhkan skills setinggi CrossFit dan hasilnya lebih mudah diprediksi karena format perlombaannya sangat terukur. Hal ini juga yang menyebabkan peminat HYROX “meledak” belakangan ini.

Gambar 2. Tingkat keterampilan (skills) dan tingkat keterukuran masing-masing cabang olahraga HIFT.

Apa Artinya pada Proses Latihan?

Munculnya fitness event HIFT berbasis partisipasi telah mengubah lanskap dalam beberapa tahun terakhir. Pendapatan yang lebih besar, penyelenggaraan yang lebih baik, dan pengalaman yang jauh lebih memuaskan bagi peserta secara umum menjadi bagian dari perkembangan tersebut. HYROX jelas telah unggul dalam hal ini. Salah satu alasan kesuksesannya adalah karena HYROX menarik kelompok atlet yang berbeda dari CrossFit. Banyak di antaranya berasal dari olahraga endurance dan mungkin belum pernah mempertimbangkan untuk mengikuti kompetisi CrossFit.

CrossFit dan HIFT lainnya secara karakteristik lebih teknis dan berorientasi pada kekuatan dan power. Hal ini menjadi hambatan bagi sebagian orang untuk ikut serta dan kemungkinan besar akan mengurangi daya tarik bagi populasi kebugaran yang lebih luas dibandingkan dengan HYROX.

Perbedaan karakteristik tersebut tentu memberikan implikasi pada proses latihan. Atlet tidak bisa menggunakan pendekatan latihan yang sama persis untuk setiap cabang HIFT. Kebutuhan terhadap strength, power, endurance, keterampilan gerak, serta kemampuan mempertahankan performa dalam kondisi lelah perlu disesuaikan dengan karakteristik cabang olahraga yang diikuti.

Tabel 2. Implikasi karakteristik HIFT terhadap proses latihan.

Penutup

Pada akhirnya, meskipun berbagai cabang HIFT menggunakan gerakan yang terlihat serupa, tuntutan fisiologis dan karakteristik kompetisinya dapat berbeda. Perbedaan inilah yang kemudian membentuk atlet dengan kemampuan dan profil fisik yang berbeda pula. Memahami karakteristik tersebut menjadi penting agar proses latihan tidak hanya mengikuti gerakan yang dilakukan dalam kompetisi, tetapi benar-benar mengembangkan kemampuan fisik yang dibutuhkan oleh cabang olahraga tersebut.

Referensi

  • Gommaar D’Hulst, 2026. How ‘Fitness Sports’ are Evolving. https://www.wod-science.com