Ketika melihat seseorang melakukan squat, lateral raise, atau memutar tubuh, kita biasanya hanya melihat arah gerakannya. Dalam biomekanika, gerakan tersebut sebenarnya dapat dianalisis lebih jauh melalui dua konsep dasar, yaitu plane dan axis.
Secara sederhana, plane adalah bidang tempat gerakan berlangsung, sedangkan axis adalah garis imajiner yang menjadi poros terjadinya gerakan. Hubungan keduanya sangat penting karena setiap gerakan pada suatu plane terjadi mengelilingi axis yang arahnya tegak lurus terhadap plane tersebut. Untuk membayangkannya, kita dapat menggunakan analogi pintu. Permukaan pintu dapat dianalogikan sebagai plane, sedangkan engselnya sebagai axis. Pintu bergerak pada suatu bidang, tetapi pergerakannya terjadi dengan berputar mengelilingi poros engsel. Prinsip yang sama digunakan ketika menganalisis gerakan tubuh.
Sagittal Plane
Sagittal plane membagi tubuh menjadi bagian kanan dan kiri. Gerakan pada bidang ini berlangsung mengelilingi mediolateral axis, yaitu sumbu yang arahnya dari sisi kiri ke sisi kanan tubuh.
Gerakan yang paling umum pada bidang ini adalah:
- Fleksi
- Ekstensi
Contohnya dapat dilihat pada squat. Ketika tubuh turun, terjadi fleksi pada sendi panggul dan lutut. Ketika kembali berdiri, terjadi ekstensi.
Jadi, ketika kita melihat gerakan fleksi dan ekstensi, kita dapat mengaitkannya dengan sagittal plane dan mediolateral axis.
Cara mengingat: Sagittal → seperti melihat gerakan dari samping.

Frontal Plane
Frontal plane atau coronal plane membagi tubuh menjadi bagian depan (anterior) dan belakang (posterior). Gerakan pada bidang ini berlangsung mengelilingi anteroposterior axis, yaitu sumbu yang arahnya dari depan ke belakang tubuh.
Gerakan yang paling umum adalah:
- Abduksi
- Adduksi
Contoh sederhananya adalah lateral raise. Ketika lengan bergerak menjauh dari garis tengah tubuh, terjadi abduksi. Ketika lengan kembali mendekati tubuh, terjadi adduksi.
Dengan demikian, gerakan abduksi dan adduksi dapat dikaitkan dengan frontal plane dan anteroposterior axis.
Cara mengingat: Frontal → seperti melihat gerakan dari depan.

Transverse Plane
Transverse plane atau horizontal plane membagi tubuh menjadi bagian atas (superior) dan bawah (inferior). Gerakan pada bidang ini berlangsung mengelilingi vertical axis, yaitu sumbu yang arahnya dari atas ke bawah.
Gerakan yang paling umum adalah:
- Rotasi
Memutar kepala ke kanan dan kiri, melakukan rotasi batang tubuh, atau melakukan gerakan rotasi pada bahu merupakan contoh gerakan yang melibatkan transverse plane.
Cara mengingat: Transverse → seperti melihat gerakan dari atas.

Hubungan Plane dan Axis
Jika ingin mengingat hubungan keduanya dengan lebih sederhana, gunakan pola berikut:
| Plane | Gerakan Dominan | Axis |
|---|---|---|
| Sagittal | Fleksi & ekstensi | Mediolateral |
| Frontal | Abduksi & adduksi | Anteroposterior |
| Transverse | Rotasi | Vertical |
Kuncinya bukan sekadar menghafalkan pasangan tersebut. Plane menunjukkan bidang tempat gerakan terjadi, sedangkan axis menunjukkan poros yang mengelilingi terjadinya gerakan.
Karena axis berada tegak lurus terhadap plane, hubungan ini menjadi konsisten:
Sagittal plane ↔ Mediolateral axis
Frontal plane ↔ Anteroposterior axis
Transverse plane ↔ Vertical axis
Gerakan Tidak Selalu Hanya pada Satu Plane
Dalam aktivitas sehari-hari maupun olahraga, tubuh jarang bergerak secara benar-benar terisolasi pada satu bidang. Banyak gerakan merupakan multiplanar movement, yaitu gerakan yang melibatkan lebih dari satu plane secara bersamaan.
Ambil contoh lunge dengan rotasi batang tubuh. Pada gerakan tersebut, tungkai melakukan fleksi dan ekstensi yang dominan terjadi pada sagittal plane. Ketika batang tubuh diputar, muncul komponen rotasi pada transverse plane.
Artinya, satu gerakan dapat dianalisis melalui lebih dari satu komponen:
- Fleksi dan ekstensi → Sagittal plane → Mediolateral axis
- Rotasi batang tubuh → Transverse plane → Vertical axis
Contoh lain dapat ditemukan pada perubahan arah saat berlari (cutting). Atlet tidak hanya melakukan fleksi dan ekstensi pada bidang sagittal, tetapi juga harus mengontrol gerakan lateral pada frontal plane serta rotasi pada transverse plane.
Pada gerakan seperti ini, ketiga bidang dapat berkontribusi secara bersamaan:
Sagittal → mengatur komponen maju-mundur dan fleksi-ekstensi
Frontal → mengatur komponen lateral dan abduksi-adduksi
Transverse → mengatur komponen rotasi
Hal yang sama juga dapat ditemukan pada gerakan olahraga yang lebih kompleks seperti throwing, jumping, landing, atau perubahan arah. Gerakan tersebut tidak selalu dapat dijelaskan hanya dengan satu plane.
Karena itu, dalam analisis gerakan multiplanar, kita tidak perlu memaksakan satu gerakan untuk masuk hanya ke satu kategori. Lebih tepat untuk mengidentifikasi plane yang dominan serta komponen gerakan lain yang turut berkontribusi.
Mengapa Pelatih Perlu Memahaminya?
Bagi pelatih, konsep planes dan axes dapat menjadi dasar untuk memahami dan menjelaskan gerakan dengan lebih sistematis.
Daripada hanya mengatakan bahwa sebuah gerakan dilakukan “ke samping” atau “memutar”, kita dapat melihat:
- Gerakannya apa? Fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi, atau rotasi.
- Terjadi pada plane mana?
- Mengelilingi axis mana?
- Apakah gerakannya dominan pada satu plane atau multiplanar?
Cara berpikir seperti ini akan membantu ketika melakukan analisis teknik latihan maupun memahami tuntutan gerak dalam olahraga.
Namun, penting untuk diingat bahwa pembagian plane bukan berarti tubuh hanya mampu bergerak dalam tiga arah yang terpisah. Tubuh manusia bergerak secara dinamis dan kompleks. Ketiga plane tersebut lebih tepat digunakan sebagai kerangka untuk membantu kita memahami komponen-komponen gerakan.
Penutup
Memahami planes dan axes merupakan salah satu dasar dalam mempelajari biomekanika. Plane membantu kita menentukan bidang tempat gerakan berlangsung, sedangkan axis menjelaskan poros yang menjadi tempat terjadinya rotasi.
Tiga hubungan dasar yang perlu diingat adalah:
Sagittal → Mediolateral → Fleksi & Ekstensi
Frontal → Anteroposterior → Abduksi & Adduksi
Transverse → Vertical → Rotasi
Setelah memahami hubungan tersebut, kita dapat melangkah lebih jauh dengan melihat bahwa banyak gerakan manusia bersifat multiplanar. Dengan begitu, analisis gerakan tidak berhenti pada menghafalkan istilah, tetapi mulai memahami bagaimana berbagai komponen gerak bekerja bersama untuk menghasilkan sebuah gerakan yang utuh.
Referensi
- Neumann, D. A. (2017). Kinesiology of the Musculoskeletal System: Foundations for Rehabilitation (3rd ed.). Elsevier.
- Hall, S. J. (2021). Basic Biomechanics (9th ed.). McGraw-Hill Education.
- McGinnis, P. M. (2020). Biomechanics of Sport and Exercise (4th ed.). Human Kinetics.
