Mungkin teman-teman pernah mendengar Tristan Alif Naufal? mantan pemain sepak bola muda Indonesia, di usia yang sangat muda pernah viral berkat kemampuan bermainnya yang luar biasa, bahkan sampai menarik perhatian dan mendapat pujian dari Pep Guardiola pada tahun 2012. Setelah pujian dari Guardiola, Tristan Alif berusaha mencoba pelatihan di akademi-akademi sepak bola ternama di Eropa. Namun, meski memiliki potensi yang besar, Tristan memutuskan untuk pensiun dini dari dunia sepak bola profesional di usia 20 tahun dan memilih menjadi pelatih akademi sepak bola. Amat disayangkan, Alif pensiun dini sebelum usia puncak pemain sepak bola dunia yaitu 25-27 tahun.
Tristan adalah satu contoh atlet muda berbakat yang tidak sempat mencapai usia puncak performanya. Ada banyak Tristan-Tristan lain di Indonesia bahkan di dunia. Mereka anak-anak potensial yang gugur dan tidak melanjutkan karir terbaik keatletannya hingga puncak performanya.
Memahami cara mengembangkan bakat dan mengapa ada orang berhasil sementara yang lain gagal, adalah topik yang menarik dalam bidang pengembangan atlet dan psikologi olahraga. Ada sebuah studi menarik oleh Taylor & Collins menanggapi masalah ini yang telah diterbitkan di The Sport Psychologist. Mereka melakukan wawancara pada sejumlah pelatih di dua sistem akademi terbaik dan terbesar (Rugby dan Sepak Bola) di Inggris. Mereka ingin memahami penyebab kemunduran talenta muda ke level elit.

Kurangnya Keterampilan Mental
Atlet yang potensial yang tidak berhasil sering kali kesulitan untuk:
- Menghadapi kesalahan atau kemunduran performa fisik maupun keterampilannya.
- Mengendalikan tekanan saat latihan maupun pertandingan.
- Regulasi diri (mengelola pikiran, emosi, dan perilaku) dan manajemen gaya hidup.
- Mempertahankan motivasi.
- Coachability (kemampuan atlet untuk secara aktif mendengarkan, menerima, dan menerapkan umpan balik konstruktif dari pelatih untuk meningkatkan performa mereka).
- Kematangan sosial emosional
Serendipitas (Keberuntungan dan waktu yang tepat)
Atlet yang sangat potensial sering terganjal oleh sesuatu yang di luar kendalinya secara langsung:
- Mengalami cedera parah pada momen penting
- Berada pada waktu dan tempat yang salah: Terhalang oleh orang lain dalam posisi mereka.
- Kehilangan kesempatan.
Sistem Pengembangan yang salah
Sistem pengembangan bakat (atlet) terkadang mengecewakan pemain yang sangat potensial dengan memberikan:
- Tantangan terlalu rendah
Contoh: ada atlet yang secara fisik bagus, selalu mendominasi di kelompok usianya, dengan hanya mengandalkan fisik dan agresinya untuk menang kadang bisa menjadi bumerang. Saat usia dewasa, dia akan kesulitan menghadapi pemain yang fisik, teknik dan taktiknya yang bagus.
- Tantangan terlalu tinggi (di-push terlalu dini)
Contoh: terlalu sering memainkan pemain muda di level yang lebih tinggi.
- Tuntutan (fisik, skill) yang terlalu drastis
Contoh: atlet langsung dihadapkan pada situasi dengan tekanan yang tinggi tanpa persiapan yang matang.
- Dukungan transisi yang kurang
Contoh: kadang klub tidak memberikan persiapan transisi yang matang, misal pemain yang dipromosikan dari level junior ke senior, banyak pemain yang belum siap, sehingga sulit berkembang di senior.
- Tidak sejalan dengan kepelatihan
Contoh: atlet tidak cocok dengan pelatih, atau pelatih tidak berinteraksi dengan baik dengan atletnya.
Dukungan orang tua yang salah arah
Orang tua yang kadang tanpa sengaja menyabotase atlet yang sangat potensial.:
- Overprotektif ketika anaknya mendapatkan tantangan.
- Memberikan tekanan atau tuntutan yang berlebihan.
Contoh: memberikan ekspektasi berlebihan kepada anak untuk hasil pertandingan.
- Memaklumi perilaku buruk, melepaskan tanggungjawab atas tindakan atlet.
- Terlalu mencampuri dalam pengambilan keputusan (atlet).
- Membentuk “mini team“ di antara pemain, mengabaikan bimbingan pelatih.
Batasan Fisik
Kadang fisik atlet tidak berkembang sesuai yang diharapkan:
- Kehilangan kemampuan fisik awal.
- Kesulitan melakukan kontak fisik dengan lawan.
- Tidak mampu memenuhi tuntutan kekuatan, kecepatan, atau daya tahan pada level senior.
- Bergantung pada ukuran saat muda dan tidak membangun keterampilan taktik atau teknik yang diperlukan.
Penutup
Keberhasilan atlet jangka panjang adalah tentang menciptakan kondisi untuk atlet dengan potensi yang tinggi untuk maju dan berkembang.
Fokuslah pada mendorong:
- Keterampilan mengendalikan stress untuk tekanan dan kemunduran.
- Regulasi diri- lakukan secara rutin atas pilihan dan kebiasaan baik.
- Tingkat tantangan yang tepat
- Suportif, tidak mengontrol, dukungan keluarga
- Pengembangan jangka panjang, bukan selalu mendominasi.
Tidak ada yang salah dengan keberbakatan. namun celah (gap) antara keterampilan (skill), dukungan dan lingkungan yang mempengaruhi.
Referensi
Taylor, J., & Collins, D. (2019). Shoulda, coulda, didnae—Why don’t high-potential players make it? The Sport Psychologist, 33(2).
