Dalam perencanaan latihan modern, istilah sports demands semakin sering digunakan sebagai dasar dalam menyusun program yang efektif dan spesifik. Namun dalam praktiknya, konsep ini masih kerap disederhanakan hanya sebagai “karakteristik fisik cabang olahraga”, tanpa benar-benar memahami kompleksitas tuntutan performa yang terjadi di lapangan.
Untuk membahas hal ini lebih dalam, kami kembali berbincang dengan Achmed Kevin Syahlintang, BSc, MSc, praktisi dan peneliti di bidang sport performance yang menempuh pendidikan di Loughborough University dan saat ini sedang menyelesaikan studi doktoralnya di University of Salford. Fokus keahliannya meliputi physical demand analysis, physical assessment, serta sprint biomechanics dan sprint training.
Dalam wawancara ini, Coach Kevin membagikan perspektifnya tentang bagaimana sports demands seharusnya dipahami secara komprehensif, kesalahan umum dalam interpretasi oleh pelatih, serta bagaimana menghubungkannya dengan perencanaan latihan yang benar-benar transferable ke performa pertandingan.
Sports Demands Bukan Sekadar Karakteristik Fisik
Menurut Coach Kevin, sports demands tidak bisa direduksi hanya pada satu dimensi. Dalam pendekatan modern, tuntutan olahraga mencakup physical, physiological, mental, dan external demands.
Banyak yang menyamakan sports demands dengan karakteristik fisik, padahal itu hanya satu bagian kecil dari keseluruhan.
Ia juga menekankan bahwa dalam konteks akademik saat ini, physical demand sering kali mengarah pada external demand atau movement load yang dapat diukur melalui teknologi seperti GPS atau IMU. Artinya, pemahaman terhadap tuntutan olahraga harus berbasis data dan mencerminkan realitas di lapangan.
Kesalahan Umum dalam Memahami Sports Demands
Salah satu kesalahan paling umum adalah melihat sports demands secara parsial. Banyak pelatih hanya fokus pada aspek fisik atau fisiologis, tanpa mempertimbangkan dimensi lain yang sama pentingnya.
Pendekatan ini membuat program latihan tidak sepenuhnya mencerminkan kompleksitas pertandingan, sehingga berisiko menimbulkan ketidaksesuaian antara latihan dan performa aktual.
Gap antara Latihan dan Tuntutan Pertandingan
Dalam praktik, gap antara sesi latihan, terutama conditioning dan tuntutan pertandingan masih sering terjadi. Salah satu bentuk paling nyata adalah overloading.
Ada garis yang sangat tipis antara overwork dan underwork. Kita hanya bisa mengidentifikasi itu kalau kita tahu konteks dan datanya.
Coach Kevin mencontohkan situasi pada pemain inti (starter) yang tetap diberikan volume latihan tinggi menjelang pertandingan demi menjaga readiness. Namun pendekatan ini justru sering berdampak sebaliknya.
Kalau kita menaikkan load terlalu dekat dengan pertandingan, fatigue akan naik, dan recovery jadi lebih lama.
Komponen Penting dalam Analisis Sports Demands
Dalam menganalisis sports demands, ada dua faktor awal yang tidak boleh dilewatkan: age group dan competition level.
Dua aspek ini menjadi dasar dalam menentukan standar data yang digunakan. Setelah itu, pelatih perlu mempertimbangkan training demands secara mingguan sebelum menentukan intervensi seperti strength training yang sesuai.
Pendekatan ini menegaskan bahwa program latihan harus bersifat kontekstual tidak bisa disamaratakan antar atlet.
Peran Data dalam Memahami Match Demands
Dalam menyusun program latihan yang tepat sasaran, data memainkan peran penting untuk menghindari bias.
Dengan data, kita tidak perlu mengira-ngira. Tanpa data, kita bisa overestimate atau underestimate.
Namun, Coach Kevin juga realistis terhadap keterbatasan di lapangan. Tidak semua pelatih memiliki akses ke GPS atau alat canggih lainnya.
Kalau tidak ada alat, questionnaire sebelum dan setelah latihan atau pertandingan masih jauh lebih baik daripada tidak ada data sama sekali.
Perbedaan Sports Demands pada Olahraga yang Tampak Serupa
Pada olahraga yang terlihat mirip seperti futsal dan sepak bola, perbedaan sports demands sering kali diremehkan. Padahal, perbedaan constraint permainan memiliki dampak besar.
Mulai dari ukuran lapangan, jenis permukaan, sampai karakteristik bola—semua itu mengubah tuntutan gerak secara signifikan.
Perbedaan ini akan memengaruhi jumlah sprint, akselerasi-deselerasi, total jarak tempuh, hingga high-speed running. Dampaknya tidak hanya fisik, tetapi juga fisiologis dan mental.
Dampak Salah Interpretasi terhadap Performa Atlet
Kesalahan dalam memahami sports demands hampir selalu bermuara pada dua hal: overtraining dan stagnasi performa.
Hal ini terjadi karena interpretasi yang keliru akan langsung memengaruhi training load, yang merupakan fondasi utama dalam program latihan. Dalam jangka panjang, kondisi ini juga dapat meningkatkan risiko cedera.
Menyesuaikan Sports Demands dengan Level Atlet
Perbedaan usia dan level kompetisi menjadi faktor krusial dalam menentukan sports demands. Menggunakan standar yang tidak sesuai dapat berdampak signifikan terhadap perkembangan atlet.
Kesalahan dalam memilih norma data bisa menyebabkan atlet mengalami overtraining atau justru tidak mendapatkan stimulus latihan yang cukup untuk berkembang.
Membangun Latihan yang Transferable ke Pertandingan
Keberhasilan program latihan tidak hanya diukur dari progres di latihan, tetapi juga dari seberapa besar transfer ke pertandingan.
Coach Kevin menekankan pentingnya membedakan jenis latihan seperti conditioning, speed, dan taktik. Dalam kondisi waktu latihan terbatas, prioritas menjadi sangat penting.
Pendekatan yang disarankan adalah memulai dengan latihan speed setelah pemanasan, dilanjutkan dengan sport-specific practice, dan diakhiri dengan conditioning.
Prinsip Utama: Jangan Overload Atlet
Sebagai penutup, Coach Kevin menegaskan satu prinsip yang sering diabaikan oleh pelatih:
Banyak pelatih berpikir karena gerakan itu sering muncul di pertandingan, maka harus terus dilatih. Tapi, apakah itu tidak berarti kita justru overloading atlet?
Ia juga menyoroti pentingnya memahami timing dalam latihan, terutama di tengah musim kompetisi.
Kita harus tahu kapan harus push dan kapan harus lebih konservatif.
Pendekatan yang tidak tepat bukan hanya menghambat performa, tetapi juga membuka risiko overuse injury.
Penutup: Sports Demands sebagai Dasar Keputusan Latihan
Dari seluruh pembahasan, terlihat jelas bahwa sports demands bukan sekadar konsep teoritis, melainkan fondasi dalam setiap keputusan latihan.
Memahami tuntutan olahraga secara komprehensif membantu pelatih menyusun program yang lebih tepat sasaran, efisien, dan aman bagi atlet. Tanpa itu, latihan berisiko tidak relevan dengan pertandingan—atau bahkan menjadi sumber kelelahan dan cedera.
Tentang Narasumber
Wawasan dalam artikel ini merujuk pada pengalaman praktik dan riset Coach Kevin Achmed Syahlintang, BSc, MSc, praktisi dan peneliti sport performance yang merupakan lulusan Loughborough University dan saat ini sedang menempuh studi doktoral di University of Salford.

Keahliannya mencakup physical assessment, physical demand analysis, serta sprint biomechanics dan sprint training. Selain itu, ia memiliki pengalaman lintas cabang olahraga seperti sepak bola, American football, track and field, basket, lacrosse, dan rugby.
