Dalam rangka memperingati Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) 2026, Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia (APKI) menyelenggarakan webinar bertajuk Active Aging: A Holistic Approach for Senior Fitness. Webinar ini menghadirkan lima narasumber dari latar belakang profesi yang berbeda, mulai dari pelatih kebugaran, fisioterapis, perawat gerontik, ahli gizi, hingga akademisi kedokteran.
Keunikan webinar ini terletak pada pendekatan multidisiplin yang digunakan. Kesehatan lansia tidak hanya dipandang dari aspek olahraga atau medis semata, tetapi sebagai kombinasi berbagai faktor yang saling memengaruhi. Melalui lima perspektif yang berbeda, peserta diajak memahami bahwa proses penuaan yang sehat membutuhkan kolaborasi berbagai profesi kesehatan.
Pendekatan seperti ini semakin relevan mengingat populasi lansia terus meningkat. Tantangan yang dihadapi lansia tidak hanya berkaitan dengan penyakit, tetapi juga penurunan fungsi fisik, perubahan status gizi, kesehatan mental, mobilitas, hingga kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
Perspektif Pelatih Kebugaran: Latihan Kekuatan sebagai Fondasi Kemandirian

Sesi pertama dibawakan oleh Doni Galih Bagaswara, S.Kes., Pelatih Kebugaran dari Fitology Fitness. Dalam sesinya, Doni membahas pentingnya latihan kekuatan yang aman bagi lansia sebagai salah satu strategi utama untuk mempertahankan fungsi tubuh selama proses penuaan.
Latihan kekuatan sering kali identik dengan peningkatan massa otot. Namun pada populasi lansia, tujuan utamanya adalah mempertahankan kemampuan fungsional agar tetap mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.

Poin utama yang dibahas:
- Pencegahan sarcopenia dan penurunan fungsi otot.
- Peningkatan keseimbangan dan stabilitas tubuh.
- Pengurangan risiko jatuh dan cedera.
- Pemeliharaan kemandirian dalam aktivitas sehari-hari.
- Pentingnya prinsip keamanan dan progresivitas latihan pada lansia.
Perspektif Fisioterapi: Menjaga Mobilitas dan Fungsi Gerak

Perspektif berikutnya disampaikan oleh Muhammad Iqbal, seorang fisioterapis dari Functional Prehab. Pembahasan berfokus pada bagaimana fisioterapi berperan dalam membantu lansia tetap aktif, mandiri, dan memiliki kualitas hidup yang baik.
Kekuatan otot yang baik belum tentu diikuti kemampuan bergerak yang optimal. Oleh karena itu, fisioterapi berperan menjaga kualitas gerak dan membantu lansia mempertahankan mobilitasnya.
Poin utama yang dibahas:
- Pentingnya mobilitas dalam menunjang kualitas hidup lansia.
- Pencegahan risiko jatuh melalui latihan keseimbangan.
- Pengelolaan nyeri dan keterbatasan gerak.
- Rehabilitasi pasca cedera atau penyakit.
- Optimalisasi fungsi tubuh untuk aktivitas sehari-hari.
Perspektif Gerontik: Melihat Lansia Secara Menyeluruh

Sesi ketiga dibawakan oleh Anna Kasfi, S.Kep., Ners., M.Kep, seorang Professional Gerontic Educator. Topik yang dibahas adalah peran perawat gerontik dalam meningkatkan kapasitas intrinsik lansia melalui pendekatan holistik. Pendekatan gerontik tidak hanya berfokus pada kondisi fisik, tetapi juga mempertimbangkan aspek psikologis, sosial, kognitif, dan kemandirian lansia. Pendekatan ini membantu melihat lansia sebagai individu yang utuh, bukan sekadar pasien dengan berbagai penyakit.
Dalam sesi ini, Anna banyak membahas tentang frailty atau sindrom kerapuhan pada lansia, yaitu kondisi menurunnya cadangan fisiologis tubuh yang membuat seseorang lebih rentan mengalami jatuh, sakit, kehilangan kemandirian, hingga rawat inap.
Menariknya, frailty bukanlah kondisi yang harus diterima sebagai konsekuensi normal penuaan. Melalui pendekatan gerontik yang holistik, kapasitas intrinsik lansia masih dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan melalui intervensi yang tepat pada aspek fisik, psikologis, sosial, dan fungsi sehari-hari.
Poin utama yang dibahas:
- Konsep kapasitas intrinsik (intrinsic capacity).
- Pentingnya kesehatan mental dan sosial pada lansia.
- Dukungan terhadap kemandirian aktivitas sehari-hari.
- Pendekatan person-centered care pada populasi lanjut usia.
- Strategi mempertahankan kualitas hidup secara menyeluruh.
Perspektif Gizi: Nutrisi sebagai Pilar Healthy Aging

Perspektif nutrisi disampaikan oleh Harry Freitag Luglio Muhammad, PhD., Dietisien, dosen Universitas Dhyana Pura sekaligus CEO PT Gizi Gama Persada.
Dalam sesi ini dibahas bagaimana kebutuhan nutrisi berubah seiring bertambahnya usia dan mengapa pola makan yang tepat menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung healthy aging. Salah satu poin menarik yang disampaikan adalah bahwa lansia umumnya mengalami penurunan kebutuhan energi (kalori) akibat berkurangnya massa otot, aktivitas fisik, dan laju metabolisme basal. Namun, penurunan kebutuhan kalori ini tidak berarti kualitas makanan dapat diturunkan.
Justru sebaliknya, ketika kebutuhan energi semakin sedikit, kualitas gizi setiap makanan yang dikonsumsi menjadi semakin penting. Lansia tetap membutuhkan protein, vitamin, mineral, serat, dan berbagai zat gizi esensial dalam jumlah yang memadai untuk mempertahankan fungsi tubuh, kesehatan metabolik, serta massa otot. Kondisi ini sering disebut sebagai kebutuhan akan makanan yang lebih nutrient-dense, yaitu makanan dengan kualitas gizi tinggi meskipun jumlah kalorinya tidak besar.
Tanpa asupan gizi yang memadai, manfaat aktivitas fisik dan latihan tidak dapat dicapai secara optimal. Oleh karena itu, strategi nutrisi pada lansia bukan hanya berfokus pada jumlah makanan yang dikonsumsi, tetapi juga kualitas dari setiap makanan yang masuk ke dalam tubuh.

Poin utama yang dibahas:
- Kebutuhan protein pada lansia.
- Pencegahan malnutrisi dan penurunan massa otot.
- Strategi pola makan sehat pada usia lanjut.
- Hubungan antara nutrisi dan kualitas hidup.
- Peran dietisien dalam mendukung kesehatan lansia.
Perspektif Kedokteran: Otot sebagai Organ Anti-Aging

Sesi terakhir dibawakan oleh dr. Tanjung Subrata, M.Repro., AIFO-K, ABAARM, dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Warmadewa, Director of Fitness Professional Academy, serta Professional Gerontic Educator.
Topik yang diangkat adalah Muscle as Anti-Aging & Longevity Organ: The Science of Myokines and Healthy Aging. Perspektif ini menjelaskan bahwa otot bukan hanya alat gerak, tetapi juga organ yang memiliki fungsi biologis penting dalam proses penuaan sehat.
Penelitian modern menunjukkan bahwa aktivitas fisik mampu merangsang pelepasan berbagai myokines yang berperan dalam menjaga kesehatan metabolik dan fungsi tubuh secara keseluruhan.
Dalam sesi ini dijelaskan bahwa otot bukan hanya berfungsi sebagai alat gerak, tetapi juga berperan sebagai organ yang aktif memengaruhi kesehatan tubuh secara keseluruhan. Saat berkontraksi melalui aktivitas fisik dan latihan, otot menghasilkan berbagai myokines yang berkontribusi terhadap kesehatan metabolik, fungsi imun, kesehatan otak, hingga proses penuaan yang sehat.

Perspektif ini memperlihatkan bahwa menjaga massa dan fungsi otot bukan hanya penting untuk bergerak, tetapi juga menjadi salah satu strategi utama dalam mendukung healthy aging dan longevity. Dengan kata lain, otot dapat dipandang sebagai salah satu “organ anti-aging” yang dimiliki tubuh.
Poin utama yang dibahas:
- Otot sebagai organ endokrin.
- Peran myokines dalam kesehatan metabolik.
- Hubungan aktivitas fisik dengan longevity.
- Pentingnya mempertahankan massa otot sepanjang usia.
- Kontribusi latihan fisik terhadap healthy aging.
Mengapa Pendekatan Holistik Sangat Penting?
Salah satu pesan terkuat dari webinar ini adalah bahwa tidak ada satu profesi yang dapat menangani seluruh kebutuhan lansia secara mandiri.
Setiap profesi memiliki peran yang berbeda namun saling melengkapi:
- Pelatih kebugaran meningkatkan kapasitas fisik.
- Fisioterapis menjaga fungsi gerak dan mobilitas.
- Perawat gerontik mengoptimalkan kapasitas intrinsik.
- Ahli gizi mendukung kesehatan melalui nutrisi.
- Dokter dan akademisi menjelaskan mekanisme biologis healthy aging.
Ketika kelima perspektif tersebut bekerja bersama, maka pendekatan yang dihasilkan menjadi lebih komprehensif dan berorientasi pada kualitas hidup lansia secara menyeluruh.
Takeaways
- Latihan kekuatan membantu mempertahankan fungsi dan kemandirian lansia.
- Mobilitas dan keseimbangan merupakan faktor penting dalam kualitas hidup.
- Pendekatan gerontik membantu melihat lansia secara holistik.
- Nutrisi dan aktivitas fisik harus berjalan beriringan.
- Massa otot memiliki peran penting dalam proses healthy aging dan longevity.
- Pendekatan multidisiplin atau holistik memungkinkan intervensi yang lebih efektif bagi populasi lansia.
Penutup

Webinar Active Aging: A Holistic Approach for Senior Fitness menunjukkan bahwa kesehatan lansia tidak dapat dipisahkan menjadi bagian-bagian yang berdiri sendiri. Aktivitas fisik, nutrisi, fisioterapi, perawatan gerontik, dan ilmu kedokteran memiliki kontribusi yang sama penting dalam mendukung proses penuaan yang sehat.
Melalui forum seperti ini, kolaborasi antarprofesi dapat terus diperkuat sehingga pendekatan terhadap lansia tidak hanya berfokus pada memperpanjang usia harapan hidup, tetapi juga memastikan mereka tetap aktif, mandiri, sehat, dan memiliki kualitas hidup yang optimal.
