Dalam dunia olahraga, banyak orang beranggapan bahwa atlet yang hebat sejak kecil pasti akan menjadi juara ketika dewasa. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Sebuah studi sistematis besar oleh Güllich et al. (2023) menunjukkan bahwa prestasi atlet pada usia junior tidak selalu berlanjut pada usia senior. Bahkan, sebagian besar atlet senior berprestasi justru bukan pemain terbaik ketika mereka masih muda.
Temuan ini penting bagi pelatih, orang tua atlet muda, lembaga olahraga, dan program pencarian bakat yang sering kali terlalu fokus pada prestasi jangka pendek.
Apa yang Diteliti?

Güllich dan timnya menganalisis puluhan penelitian dari berbagai cabang olahraga, lalu menggabungkannya untuk melihat:
1. Berapa persen atlet junior berprestasi yang juga mencapai level yang sama saat senior (studi prospektif).
2. Apakah atlet senior berprestasi memiliki rekam jejak prestasi tinggi ketika masih junior (studi retrospektif).
Total sampel yang dianalisis sangat besar:
· Studi prospektif: 110 penelitian, 38.383 atlet junior
· Studi retrospektif: 79 penelitian, 22.961 atlet senior
Hasilnya konsisten dan mengejutkan: garis antara “juara junior” dan “juara senior” ternyata sangat tidak linear.
Apakah Atlet Senior yang Berprestasi Itu Atlet Junior yang Sama?

Untuk menjawab ini, peneliti menggabungkan data prospektif dan retrospektif.
Hasilnya divisualisasikan dalam diagram hitam-putih yang menunjukkan:
- Bagian hitam: atlet junior berprestasi yang sama dengan atlet senior berprestasi
- Bagian putih: dua kelompok yang berbeda
Hasilnya konsisten: mereka adalah dua populasi yang berbeda.
Beberapa temuan penting:
- Atlet tingkat internasional Junior C dan atlet internasional senior hanya 3,9% yang identik.
Artinya, 96% atlet senior internasional bukan atlet junior internasional sebelumnya. - Atlet tingkat nasional Junior A dan atlet tingkat nasional senior hanya 32% yang sama.
Jadi, meskipun peluang di tingkat nasional sedikit lebih besar, mayoritas atlet tetap merupakan “nama baru” ketika masuk usia senior.
Kesimpulannya jelas: juara junior dan juara senior bukan populasi yang sama.
Mengapa Ini Bisa Terjadi?
Ada beberapa faktor:
- Perbedaan waktu maturasi fisik
- Variasi perkembangan psikologis
- Perubahan motivasi
- Cedera pada masa remaja
- Kualitas pelatihan pada fase transisi
- Tekanan kompetisi usia muda yang terlalu besar
Proses perkembangan atlet adalah perjalanan jangka panjang, bukan “siapa paling cepat matang.”
Implikasi Penting untuk Dunia Olahraga
Temuan ini punya dampak besar pada cara kita memilih, melatih, dan mengembangkan atlet muda.
- Atlet Senior Top Tidak Selalu Hebat Saat Junior
Sebagian besar atlet elite dunia ternyata bukan atlet terbaik pada usia remaja.
Itu berarti:
- Fokus usia muda seharusnya pada fondasi keterampilan dan pengembangan jangka panjang,
- Bukan mengejar kemenangan cepat di usia dini.
- Sistem Seleksi Bakat yang Hanya Mengutamakan Juara Junior Bisa Keliru
Jika program pembinaan hanya mencari “yang terbaik saat ini”:
- Banyak atlet berbakat jangka panjang bisa tersisih.
- Sumber daya bisa salah sasaran karena mayoritas atlet elite junior tidak melanjutkan ke elite senior.
- Talenta “late bloomers” (yang berkembang lebih lambat) kehilangan kesempatan.
Ini adalah kritik langsung terhadap banyak akademi olahraga dan program beasiswa.
- Efek Domino: Semua Pihak Terdorong Mengejar Prestasi Dini
Ketika beasiswa, pemusatan latihan, dan peluang dipatok berdasarkan prestasi junior, muncul tekanan:
- Atlet remaja “dipaksa” memaksimalkan performanya secepat mungkin
- Orang tua merasa harus mengejar kompetisi tanpa henti
- Pelatih fokus pada hasil, bukan proses
- Risiko cedera meningkat karena percepatan latihan
Padahal, pengembangan atlet seharusnya berlangsung bertahun-tahun dan berfokus pada kesiapan jangka panjang, bukan kemenangan remaja.
- Seleksi Seharusnya Mengidentifikasi Potensi, Bukan Prestasi Sesaat
Program pembinaan perlu mengubah pertanyaan dari:
“Siapa yang terbaik saat ini?”
menjadi
“Siapa yang punya peluang berkembang paling besar dalam 5–10 tahun ke depan?”
Ini bisa mencakup indikator seperti:
- kemampuan belajar motorik
- konsistensi latihan
- respons terhadap pelatihan
- kualitas teknik dasar
- motivasi dan ketahanan mental
Penutup
Studi Güllich et al. (2023) memberikan gambaran kuat bahwa prestasi usia dini bukanlah prediktor yang akurat untuk prestasi dewasa. Sebaliknya, atlet elite senior banyak berasal dari berbagai latar belakang perkembangan, dan sering kali bukan atlet yang menonjol saat junior. Ini menjadi pengingat bagi pelatih, akademi, dan keluarga atlet bahwa proses pembinaan harus bersifat jangka panjang, sabar, dan fokus pada perkembangan menyeluruh—bukan sekadar mengejar medali di usia muda.
Referensi
- Güllich, A., Brustio, P., & colleagues. (2023). Quantifying the Extent to Which Successful Juniors and Successful Seniors are Two Disparate Populations: A Systematic Review and Synthesis of Findings. Sports Medicine, 53, 1201–1217.
