Banyak hal yang membedakan antara atlet elit dan atlet non-elit. Salah satu yang membedakan adalah mental toughness atau ketangguahan mental. Mental toughness adalah kemampuan atlet untuk terus berjuang di tengah tantangan, kesalahan, dan kegagalan. Dalam olahraga, mental toughness diperlukan untuk bermain di level elit; faktor-faktor yang memengaruhi tingkat ketangguhan mental meliputi motivasi yang ditentukan sendiri, faktor lingkungan dan sekitar, serta faktor pribadi lainnya seperti ketekunan dan pemikiran optimis.
Faktor-faktor yang mendorong tingkat ketangguhan mental ini harus diajarkan secara positif oleh pelatih sejak usia dini untuk membantu mengembangkan atlet muda secara optimal. Mental toughness telah memiliki pengaruh positif terhadap kesuksesan atlet dan juga telah meningkatkan fungsi kesehatan mental yang adaptif, kesejahteraan mental (well-being), serta penurunan tingkat stres, depresi, dan peningkatan kualitas tidur (Cowden dkk., 2019).
Bagaimana bentuk mental toughness pada atlet elit?
Jones dkk membuat frameworks mental toughness pada atlet elit. Yang meliputi dimensi mindset, dimensi Latihan, dimensi komeptisi dan dimensi pasca kompetisi.
- Dimensi mindset dan sikap
Keyakinan
- Atlet elit memiliki keyakinan diri yang tak tergoyahkan sebagai hasil kesadaran total atas bagaimana dia bisa sampai pada posisi sekarang.
- Mereka memiliki “arogansi” dari dalam yang membuat atlet yakin bisa mencapai apapun yang sudah ditetapkan.
- Memiliki keyakinan bahwa dia dapat melewati segala rintangan yang menghalanginya.
- Mereka meyakini bahwa dia berhasrat atau “lapar” yang hasil akhirnya untuk pemenuhan potensinya
Fokus
- Mereka menolak untuk terpengaruh keuntungan jangka pendek (finansial, performa) yang akan membahayakan capaian jangka panjang.
- Mereka memastikan bahwa capaian prestasi olahraga adalah nomor satu di hidup mereka.
- Mengenali pentingnya kapan “switch on” dan “switch off” dari cabang olahraganya. Tahu kapan fokus latihan, kapan fokus pada hal di luar latihan.
- Dimensi Saat Latihan
Menggunakan Motivasi jangka panjang sebagai sumber motivasi
- Ketika menghadapi kesulitan (fisik dan mental) yang tidak sesuai keinginan, mereka tetap mengingatkan diri akan tujuan dan kenapa mereka harus melaluinya.
- Memiliki kesabaran, disiplin, dan pengendalian diri dengan tuntutan latihan pada setiap tahap pengembangan spesifik untuk memungkinkan mencapai potensi maksimalnya.
Mengendalikan Lingkungan
- Mereka tetap dalam kendali dan tidak dikendalikan faktor eksternal.
- Menggunakan segala aspek lingkungan latihan yang sangat sulit menjadi keuntungannya.
Mendorong diri hingga batas maksimal
- Menyukai bagian latihan yang menyakitkan/ menantang
- Mengembangkan kesempatan untuk melawan orang lain saat latihan
- Dimensi Saat Kompetisi
Mengendalikan Tekanan
- Mereka menyukai tekanan saat kompetisi
- Beradaptasi dan dapat mengatasi (coping) perubahan/gangguan/tantangan di bawah tekanan.
- Membuat keputusan yang tepat yang mengamankan performa optimal di bawah kondisi tekanan yang ekstrim dan ketidakpastian.
- Mereka dapat mengatasi (coping) dan menyalurkan kecemasan saat situasi penuh tekanan.
Keyakinan
- Merek berkomitmen penuh untuk tujuan performa hingga setiap kemungkinan peluang kesuksesan terlewati.
- Tidak takut membuat kesalahan dan bisa kembali memperbaikinya
Mengendalikan Performa
- Memiliki insting “killer” untuk menguasai momen saat dia tahu akan menang.
- Meningkatkan performa “up a gear” atau memulai sesuatu lebih baik, di saat-saat penting.
Tetap Fokus
- Fokus penuh pada apa yang sedang dihadapi di tengah distraksi/gangguan.
- Tetap berkomitmen fokus mementingkan diri sendiri meskipun ada gangguan eksternal.
- Pada performa tertentu, tetap fokus pada proses dan tidak semata-mata hasil.
Kesadaran dan mengendalikan pikiran dan perasaan
- menyadari secara akurat setiap pikiran dan perasaan yang tidak perlu/pantas dan mengubahnya untuk membantu Performa secara optimal .
Mengendalikan Lingkungan
Menggunakan semua aspek lingkungan kompetisi yang sangat sulit menjadi keuntunganmu.
- Dimensi Pasca Kompetisi
Mengendalikan Kegagalan
- Mengenali dan merasionalisasi kegagalan serta menjadikannya sebuah pembelajaran ke depan.
- Menggunakan kegagalan untuk mengarahkan dirimu kepada kesuksesan di masa depan
Mengendalikan kemenangan
- Mengetahui kapan untuk merayakan keberhasilan dan kemudian berhenti, dan kembali fokus pada tantangan selanjutnya.
- Mengetahui bagaimana mengendalikan keberhasilan secara rasonal
Penutup
Bagi pelatih, mengajarkan konsep mental toughness kepada atlet bisa menjadi tantangan. Salah satu cara mengajarkan mental toughness adalah dengan awareness atau kesadaran. Kesadaran akan cara memandang atlet; kritis namun mendukung. Melibatkan kesadaran dalam menentukan tindakan, yang dapat dilakukan melalui menciptakan situasi sulit, mendorong kemandirian, dan melihat atlet sebagai individu. Situasi sulit memungkinkan atlet membuat kesalahan dalam latihan dan belajar dari kesalahan tersebut untuk pertandingan.
Pelatih perlu mengintegrasikan program latihan mental ke dalam jadwal rutin atlet. Mengembangkan kebiasaan baik pada atlet, pelatih dapat goal setting atau menetapkan tujuan akhir dan menjaga motivasi atlet melalui komitmen. Pelatih juga harus menerapkan lingkungan otonom di mana atlet mereka dapat tetap termotivasi. Mental toughness dapat dikembangkan di semua usia dan harus dilatih secara konsisten. Pentingnya latihan mental dapat menjadi pembeda antara atlet elit dan non-elit. Menerapkan program latihan mental dalam olahraga remaja, atlet akan siap untuk bertahan di tengah kesulitan.
Referensi
Jones, D., Hanton, S., & Connaughton, D. (2007). A Framework of Mental Toughness in the World’s Best Performers. The Sport Psychologist, 21, 243-264.
Cowden RG, Crust L, Jackman PC, Duckett TR. Perfectionism and motivation in sport: The mediating role of mental toughness. S Afr J Sci. 2019;115(1/2), Art. #5271, 7 pages. https://doi.org/10.17159/ sajs.2019/5271.
