Kapan Kamu Perlu Berhenti Ketika Merasa Nyeri Saat Bertanding?

Ilmu OlahragaPemulihan

Dalam dunia olahraga, rasa nyeri sering dianggap sebagai “bagian dari perjuangan”. Atlet rekreasional maupun professional, terbiasa mendorong tubuh melewati batas nyaman. Namun, tidak semua nyeri boleh diabaikan. Kemampuan membedakan nyeri adaptif dan nyeri akibat cedera menjadi keterampilan penting agar atlet tidak terjebak pada cedera berkepanjangan.

Masalahnya, banyak atlet baru menyadari kesalahan ini ketika performa menurun atau cedera semakin parah. Padahal, tubuh sebenarnya sudah memberikan sinyal jauh lebih awal.

Memahami Skala Nyeri

Salah satu cara sederhana untuk menilai nyeri adalah menggunakan skala nyeri 0–10, di mana:

  • 0 = tidak ada nyeri
  • 10 = nyeri paling hebat yang bisa dibayangkan

Skala ini bersifat subjektif, tetapi sangat membantu atlet untuk mengevaluasi kondisi tubuhnya sendiri secara jujur.

Kapan Kamu Perlu Berhenti atau Menghentikan Latihan?

Kamu perlu mempertimbangkan untuk berhenti latihan atau bertanding jika:

  1. Nyeri terasa lebih besar dari skala 3/10, baik saat latihan maupun setelahnya
  2. Teknik gerakan berubah akibat rasa sakit, misalnya pola lari berubah, gerakan jadi pincang, atau kompensasi gerak muncul

Jika nyeri mulai mengganggu aktivitas sehari-hari atau performa olahraga, segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan profesional seperti fisioterapis atau dokter olahraga. Menunda evaluasi sering kali justru memperpanjang waktu pemulihan.

Perkiraan Lama Penyembuhan Cedera

Ketika cedera terjadi, tubuh membutuhkan waktu untuk melakukan proses penyembuhan jaringan. Namun, waktu penyembuhan tidak sama pada setiap orang.

Lama proses penyembuhan dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti:

  • Suplai darah ke jaringan
  • Tingkat keparahan kerusakan
  • Jenis dan struktur jaringan yang cedera
  • Usia
  • Gaya hidup
  • Kondisi psikologis (misalnya stres atau depresi)

Inilah alasan mengapa kembali berlatih terlalu cepat, meskipun sudah “tidak terasa sakit”, justru meningkatkan risiko cedera ulang.

Apakah Nyeri Hilang Berarti Cedera Sudah Sembuh?

Jawabannya: belum tentu.

Nyeri sering kali menurun lebih cepat dibandingkan proses penyembuhan jaringan itu sendiri. Artinya, hilangnya nyeri bukan satu-satunya indikator bahwa tubuh sudah siap menerima beban latihan penuh.

Banyak atlet keliru menganggap diri mereka telah pulih sepenuhnya, padahal jaringan belum cukup kuat. Rehabilitasi olahraga yang tepat membantu memastikan penyembuhan berjalan optimal dan menurunkan risiko cedera kambuhan.

Penutup

Tidak semua nyeri berarti cedera, dan tidak semua nyeri harus ditahan. Atlet perlu memahami kapan harus terus bergerak dan kapan harus berhenti. Mengenali perbedaan antara nyeri cedera dan DOMS biasa akan membantu atlet berlatih lebih cerdas, bukan sekadar lebih keras.

Referensi

  • Napier, C. (2020). Science of Running. London: Dorling Kindersley Ltd.

  • Potach, D. H., & Grindstaff, T. L. (2015). Rehabilitation and Reconditioning. In Essentials of Strength Training and Conditioning (4th ed.).

  • American College of Sports Medicine. (2022). Eccentric contractions are responsible for muscle damage and neuromuscular fatigue.