Manfaat latihan beban untuk anak-anak dan remaja sudah terbukti secara ilmiah. Latihan beban dapat meningkatkan kekuatan otot, keterampilan gerak dasar, kepadatan mineral tulang, kesehatan kardiometabolik, membantu mengontrol berat badan, hingga mengurangi risiko cedera olahraga. Meski bukti ilmiah sudah kuat, partisipasi remaja dalam latihan beban masih rendah.
Data menunjukkan bahwa hanya 4,8% remaja di Kolombia dan 19,4% remaja di Eropa yang berpartisipasi dalam latihan beban. Jika anak-anak tidak mendapatkan paparan latihan yang cukup, kesenjangan antara anak yang kuat dan lemah dapat semakin melebar seiring waktu. Rendahnya kekuatan otot bahkan menjadi faktor risiko disabilitas fungsional di usia dewasa.
Di Indonesia, rendahnya partisipasi ini semakin diperburuk oleh berbagai mitos seputar latihan beban pada anak-anak. Karena itu, penting bagi orang tua dan masyarakat untuk memahami fakta ilmiah dari para ahli, salah satunya Prof. Avery D. Faigenbaum, Ed.D., CSCS, Professor of Pediatric Exercise Science, The College of New Jersey.
Artikel ini akan menjawab mitos-mitos tersebut secara jelas dan sederhana.
Mitos 1: “Latihan beban dapat menghambat pertumbuhan anak”

Ini adalah mitos paling umum. Faktanya, latihan beban tidak menghambat pertumbuhan selama dilakukan dengan teknik yang benar dan pengawasan yang tepat. Tekanan yang diberikan latihan beban justru membantu memperkuat tulang dan merangsang perkembangan struktur tubuh.
Contoh relatable:
Anak-anak yang bermain bola, melompat, atau berlari juga memberi tekanan pada tulang dan aktivitas itu dianggap aman. Latihan beban ringan sebenarnya memiliki risiko yang sama atau bahkan lebih rendah karena dilakukan secara terstruktur
Mitos 2: “Latihan beban hanya untuk atlet”

Anggapan ini keliru. Latihan beban bermanfaat bagi siapa saja, bukan hanya atlet. Anak-anak yang tidak terlibat olahraga kompetitif pun tetap mendapatkan manfaat, seperti:
- Kekuatan tubuh meningkat
- Postur lebih baik
- Risiko cedera lebih rendah
- Rasa percaya diri bertambah
Latihan beban adalah bagian dari gaya hidup aktif, bukan aktivitas eksklusif untuk atlet.
Mitos 3: “Latihan beban baru boleh dilakukan setelah usia 17 tahun”
Para ahli sepakat bahwa latihan beban dapat dimulai sejak anak usia 7–8 tahun, atau lebih muda jika mereka sudah mampu mengikuti instruksi dan aturan keselamatan. Fokus utamanya bukan pada beban berat, tetapi pada teknik gerakan.
Contoh kegiatan untuk pemula:
- Squat dengan beban tubuh
- Lunge
- Dorongan elastik band
- Step-up
- Latihan koordinasi dan keseimbangan
Intinya, bukan usia yang menentukan, tetapi kesiapan motorik dan kemampuan mengikuti arahan.
Mitos 4: “Latihan beban tidak aman untuk anak-anak”

Latihan beban aman jika dilakukan dengan benar. Risiko cedera justru lebih rendah dibanding banyak olahraga populer lainnya, asalkan:
- teknik benar,
- beban sesuai kemampuan,
- progres dilakukan bertahap,
- dan disupervisi instruktur berkualifikasi.
Dengan pendekatan yang tepat, latihan beban menjadi sarana yang efektif untuk membangun kebiasaan aktif dan sehat sejak dini.
Penutup
Latihan beban bukanlah ancaman bagi pertumbuhan anak justru sebaliknya, dapat menjadi fondasi penting bagi kesehatan jangka panjang. Mitos-mitos yang beredar perlu diluruskan agar orang tua, pelatih, dan pendidik dapat memberikan kesempatan terbaik bagi anak untuk berkembang secara optimal. Dengan teknik yang benar dan pengawasan yang tepat, latihan beban menjadi aktivitas yang aman, bermanfaat, dan relevan untuk anak-anak masa kini.
Referensi
- Moreno-Torres, J. M., García-Roca, J. A., Abellan-Aynes, O., & Diaz-Aroca, A. (2025). Effects of Supervised Strength Training on Physical Fitness in Children and Adolescents: A Systematic Review and Meta-Analysis. Journal of functional morphology and kinesiology, 10(2), 162. https://doi.org/10.3390/jfmk10020162
Faigenbaum AD, Stracciolini A, MacDonald JP, et al. (2022). Mythology of youth resistance training. British Journal of Sports Medicine, 56:997–998.
