Kenapa Anak-Anak Perlu Mengikuti Multi Cabang Olahraga?

Ilmu OlahragaLatihan dan Kondisi FisikPengembangan Atlet Muda

Ada fenomena dimana semakin meningkatnya dorongan (dari lingkungan maupun orang tua) bagi anak-anak untuk mulai berlatih pada satu cabang olahraga tertentu sejak dini (bahkan sejak balita) dan hanya fokus pada cabor tersebut sepanjang tahun. Hal ini disebut spesialisiasi dini (jika dilakukan sebelum usia 12 tahun).

Pemikirannya adalah bahwa spesialisasi dini akan mengarah pada peningkatan keterampilan dan penguasaan cabor, mendapatkan prestasi terbaik dalam kompetisi sejak dini, mendapat beasiswa, hingga menjadi pemain profesional. Padahal hal ini sangat jarang terjadi dan telah didukung oleh berbagai bukti ilmiah.

Multicabor akan membantu memperkaya dan memperkuat keterampilan cabang olahraga utama

Semakin kaya pengalaman gerak semakin baik dan kuat pondasi fisik dan keterampilannya.

Spesialisasi dini dapat membatasi transfer keterampilan cabang olahraga

Atlet usia muda yang spesialisasi dini cederung kesulitan dengan gerak narrow movement, tidak mampu melakukan koordinasi gerak yang tidak familiar atau kesulitan beradaptasi dengan posisi baru. Hal ini sering kali menyebabkan cedera olahraga.

Narrow Movement merupakan gerakan yang tepat dan terkontrol dengan menggunakan kelompok otot kecil, sering kali membutuhkan tingkat koordinasi dan akurasi mata-tangan yang tinggi. Contoh: tendangan shooting pada sepakbola, shooting three point pada bola basket, servis pada tennis.

Perbandingan Dampak Spesialisasi Dini vs Multi-Cabor

Atlet Multi-cabor memiliki Risiko cedera lebih rendah

Atlet usia muda yang berpartisipasi pada satu cabang olahraga (spesialisasi dini) berisiko 2,25 kali lebih tinggi dibandingan atlet multi-cabor

Atlet Multi-Cabor Memiliki Karir Atlet yang Lebih Cemerlang

  • Sebesar 88% Atlet Divisi I NCAA (atlet mahasiswa di AS) berpartisipasi dalam setidaknya dua cabor saat mereka masih anak-anak hingga remaja. Tujuh puluh persen diantaranya tidak spesialisasi di satu cabor sebelum usia 12 tahun. (American Medical Society for Sports Medicine, 2013)
  • Sebesar 98% Pemain NHL (Liga 1 Hoki di AS) bermain di cabang plahraga selain hoki dari usia 5 hingga 14 tahun dan 80% pemain NHL masil berpartisipasi pada multi-cabor pada usia 15-18 tahun. (NHL & NHLPA, 2018)
  • Sebesar 87,5% atau 224 dari 256 Pemain NFL Draft 2015 bermain di beberapa cabang olahraga di sekolah menengah. Dari seluruh draft pemain, 63% berpartisipasi dalam cabor atletik, 48% bermain bola basket dan 10% bermain baseball. (Tracking Football, 2015)

Spesialisasi dini berisiko lebih tinggi mengalami burnout dan drop out dari cabang olahraganya

Spesialasi dini menjadi faktor penyebab tingginya sebagian besar atlet muda tidak melanjutkan (drop out) dari cabornya menurut sebagian besar penelitian. Bahkan satu studi menyebutkan bahwa tingkat drop out atlet muda dari cabornya mencapai  70% pada usia 13 tahun (Brenner, 2016).

Gejala burnout:

  • Kelelahan yang terus menerus,
  • Gejala depresi (spt: gangguan mood, hilangnya minat untuk beraktivitas),
  • Hilang ketertarikan dan motivasi,
  • Gangguan tidur,
  • Iritabilitas (mudah tersinggung),
  • Gejala kecemasan (spt. Kekhawatiran berlebihan, agitasi)
  • Menurunkan konsentrasi,
  • Nyeri otot/sendi yang tidak jelas penyebabnya,
  • Perubahan berat badan, menurunaknya prestasi akademik atau performa olahraga,
  • Menurunnya kenikmatan (enjoyment) pada olahraga.

Faktor Risiko burnout:

  • Tekanan atau motivasi ekstrinsik.
  • Persepsi stress.
  • Memprioritaskan tujuan jangka pendek.
  • Perfeksionisme.
  • Fokus pada hasil performa dari teman, pelatih atau orang tua.
  • Jadwal yang sangat padat.
  • beban latihan yang tinggi jangka panjang.
  • Konflik di dalam tim.

Penutup

Spesialasi dini menjadi faktor penyebab tingginya sebagian besar atlet muda tidak melanjutkan (drop out) dari cabornya menurut sebagian besar penelitian. Bahkan satu studi menyebutkan bahwa tingkat drop out atlet muda dari cabornya mencapai  70% pada usia 13 tahun (Brenner, 2016).

Gejala burnout:

  • Kelelahan yang terus menerus,
  • Gejala depresi (spt: gangguan mood, hilangnya minat untuk beraktivitas),
  • Hilang ketertarikan dan motivasi,
  • Gangguan tidur,
  • Iritabilitas (mudah tersinggung),
  • Gejala kecemasan (spt. Kekhawatiran berlebihan, agitasi)
  • Menurunkan konsentrasi,
  • Nyeri otot/sendi yang tidak jelas penyebabnya,
  • Perubahan berat badan, menurunaknya prestasi akademik atau performa olahraga,
  • Menurunnya kenikmatan (enjoyment) pada olahraga.

Faktor Risiko burnout:

  • Tekanan atau motivasi ekstrinsik.
  • Persepsi stress.
  • Memprioritaskan tujuan jangka pendek.
  • Perfeksionisme.
  • Fokus pada hasil performa dari teman, pelatih atau orang tua.
  • Jadwal yang sangat padat.
  • beban latihan yang tinggi jangka panjang.
  • Konflik di dalam tim.

Referensi

  • Brenner & Watson (2024) AAP Council on Sports Medicine and Fitness. Overuse Injuries, Overtraining, and Burnout in Young Athletes. Pediatrics. 53(2).

  • Bompa & Corera (2015). Condittioning Young Athletes. Champign: IL: Human Kinetics

  • Ashborne. (2024). Single Sports Kids Are At Much Higher Risk for Injuries. rg.org