Anak berpartisipasi pada olahraga bukan hanya soal prestasi tapi memiliki manfaat positif bagi kesehatan, tumbuh kembang anak, psikologis dan sosial pada anak-anak dan remaja. Menurut survei di Amerika Serikat, sekitar 70% anak-anak drop out dari partisipasi olahraga pada usia 13 tahun. Olahraga dipandang menjadi hal yang tidak lagi menyenangkan bagi anak-anak dan remaja. Banyak faktor yang menyebabkan anak drop out dari olahraga , mulai dari diri mereka sendiri, tekanan dari orang tua, pelatih dan lingkungan.
Berikut faktor-faktor yang menyebabkan anak drop out dari cabang olahraganya
- Olahraga tidak lagi menjadi hal yang menyenangkan
Salah satu alasan utama mengapa anak-anak dan remaja berhenti berolahraga adalah karena olahraga tersebut tidak lagi menyenangkan untuk dirinya. Seiring bertambahnya usia, ekspektasi dan kebutuhan mereka berubah, dan apa yang dulu menarik bisa menjadi hal yang monoton dan tidak menarik lagi.
- Tekanan dan ekspektasi orang tua
Banyak anak diperkenalkan pada olahraga oleh orang tua mereka, dan seringkali mereka terus latihan karena tekanan yang diberikan oleh orang tua mereka. Dalam beberapa kasus, anak-anak ditekan untuk latihan dan berkompetisi karena orang tua ingin mewujudkan fantasi mereka sendiri melalui anak-anak mereka, atau berharap mendapatkan pengakuan dari partisipasi anak-anak mereka. Seringkali anak-anak merasa tertekan untuk terus berprestasi karena mereka tidak ingin mengecewakan orang tua mereka.
Ekspektasi yang berlebihan dan tekanan performa (prestasi) dapat sangat membebani anak-anak. Rasa takut akan kegagalan dapat menyebabkan hilangnya minat dan pada akhirnya anak meninggalkan olahraga tersebut.
- Hubungan anak dengan pelatih
Sebagian pelatih memiliki keterampilan komunikasi yang buruk, gaya berinteraksi yang otoriter dan umumnya tidak mampu memahami atlet muda.
Sebagian pelatih juga dapat mengkritik dan menekan atlet secara berlebihan untuk selalu memenangkan pertandingan dan tampil sempurna. Dalam situasi ini, anak-anak dapat menjadi tidak menikmati permainan dan mengalami kecemasan karena takut melakukan kesalahan dan mungkin merasa tidak dihargai atas kemampuan mereka. Hal ini dapat menyebabkan perasaan tidak mampu dan meragukan diri sendiri (saya tidak cukup baik). Hal ini menciptakan suasana yang tidak nyaman bagi atlet dapat berlanjut ke situasi kehidupan lainnya.
- Cedera olahraga dan burnout
Banyak anak diminta atau ditekan oleh orang tua dan pelatih untuk melakukan latihan yang semakin intensif tanpa dibarengi dengan pemulihan yang cukup, menyebabkan kelelahan fisik dan mental.
Penggunaan berlebihan atau overuse pada bagian tubuh tertentu dapat menyebabkan kelelahan atau cedera otot atau hingga burnout. Sebagian atlet yang didera cedera cukup parah memerlukan perawatan medis, beberapa anak pulih dan kembali latihan, tetapi banyak yang tidak bisa kembali latihan di cabornya. Anak-anak atau orang tua tidak ingin mengambil risiko lebih lanjut.
- Tidak diberikan waktu bermain (bertanding)
Beberapa praktik kepelatihan dan keputusan saat pertandingan berfokus pada memberikan waktu bermain maksimal kepada pemain terbaik atau pemain tertentu saja, karena tujuan utamanya untuk menang. Keputusan ini dapat mendorong pemain dengan kemampuan yang tidak begitu baik untuk keluar dari tim atau bahkan meninggalkan olahraga sepenuhnya.
- Pengaruh teman Sebaya
Masa remaja merupakan masa Dimana remaja sedang mencari identitas diri, mereka cenderung ingin diterima di lingkungan sebayanya. Pengaruh teman sebaya sangat besar pada masa remaja. Jika teman-temannya tidak memiliki minat yang sama dalam olahraga, seorang remaja mungkin merasa tertekan dan akhirnya berhenti dari aktivitas tersebut agar bisa lebih diterima di lingkungan teman-temannya.
- Hubungan dengan Lawan Jenis
Ketertarikan pada lawan jenis (pacaran) pada usia remaja kerap kali dapat menyebabkan pergeseran prioritas dan aktivitas olahraga mungkin menjadi kalah penting dibandingkan dengan hubungan pribadinya.
- Tuntutan Akademik
Tuntutan akademik mungkin meningkat seiring tingkatan pendidikan mereka. Tuntutan akademik yang tinggi dapat menambah beban stress dalam menyeimbangkan komitmen antara latihan dengan studi yang dapat menyebabkan keterbatasan waktu, kelelahan, dan tantangan kesehatan mental. Kombinasi jadwal yang padat, perjalanan, latihan, dan tugas sekolah menciptakan risiko kecemasan dan performa buruk di salah satu atau keduanya. Sehingga banyak anak atau remaja yang memilih untuk fokus sekolah dan meninggalkan olahraga.
- Keterbatasan Finansial
Banyak olahraga memerlukan biaya yang cukup besar untuk partisipasi olahraga secara berkelanjutan. Masalah biaya saja dapat membuat anak-anak dari keluarga kalangan ekonomi rentan terhalang untuk partisipasi sejak awal atau menghentikan partisipasi jika biaya tidak dapat ditanggung.
Latihan sepanjang tahun, biaya peralatan, biaya pelatih, camp, turnamen, dan biaya perjalanan dapat menguras anggaran keluarga dan menjadi faktor penentu apakah beberapa anak dapat memulai atau melanjutkan partisipasi.
Bagaimana cara meminimalkan angka drop out dalam olahraga?
Untuk meminimalkan angka drop out dalam olahraga dan meningkatkan keterlibatan remaja pada olahraga meliputi:
- Mendefinisikan ulang tujuan olahraga dari sekadar menang menjadi bersenang-senang (enjoyment),
- Mendorong partisipasi dalam berbagai cabang olahraga, bukan hanya satu cabor.
- Memungkinkan anak-anak untuk memiliki otonomi dan hak atas pengalaman bermain,
- Mendorong pelatih untuk memberi setiap anak kesempatan untuk bermain,
- Mengurangi tekanan orang tua atau pelatih tentang kemenangan,
- Menghindari kehendak orang tua untuk mewujudkan impian olahraga mereka melalui anak-anak mereka, dan
- Memulai partisipasi olahraga pada usia yang tepat.
Referensi
Witt & Dangi (2018). Why Children/Youth Drop Out of Sports Journal of Park and Recreation Administration36(3).
