Kenapa Atlet Bagus Di Latihan Tapi Mlempem Saat Bertanding?

Ilmu OlahragaPengembangan Atlet MudaPsikologi Olahraga

Latihan adalah “zona aman” di mana anak-anak bisa membuat kesalahan. Kesalahan menghasilkan umpan balik, bukan penilaian, sehingga atlet tetap rileks dan fokus pada pembelajaran. Berbeda ketikan pada situasi pertandingan. Skor atau poin menjadi penting, banyak orang menonton, dan waktu bermain terasa tidak pasti. Otak beralih ke “mode bertahan”. Alih-alih bereaksi secara alami, atlet menjadi memantau/menilai (judge) diri sendiri, takut gagal, khawatir tentang penampilannya dan hasil pertandingan. Hasilnya, Keterampilan yang biasanya terlihat lancar dan otomatis saat latihan, menjadi tidak konsisten dalam kompetisi. Anak-anak terlihat lebih ragu-ragu dan takut.

Sebenarnya hal ini merupakan hal yang normal terjadi pada atlet muda, perlu proses hingga mereka dapat menguasai keterampilan manajemen tekanan/stress.

Tentang Menghadapi Tekanan

Ketika atlet muda tampil under perfom dalam pertandingan, masalahnya sebenarnya jarang terkait dengan tidak berbakat atau kurangnya usaha, tapi tentang menghadapi tekanan. Tekanan umumnya menjadi alasan utama mengapa atlet muda tampil di bawah performa terbaiknya dalam pertandingan. Tekanan mengalihkan fokus dan meningkatkan ketegangan otot, yang mengakibatkan penurunan kepercayaan diri pada kemampuan mereka.

Atlet kerapkali takut mengecewakan orang tua atau pelatih, meraka ingin menghindari rasa malu. Alih-alih fokus pada permainan berikutnya, atlet memikirkan kemenangan, kekalahan, kesalahan, atau mengecewakan orang lain. Fokus internal ini menghalangi kepercayaan diri pada kemampuan mereka. Bahkan, atlet yang percaya diri pun dapat kesulitan ketika tekanan dan ekspektasi melebihi batas mereka.

Kenapa anak-anak overthinking saat bertanding?

Overthinking terjadi ketika atlet mencoba secara sadar mengendalikan keterampilan yang seharusnya berjalan secara otomatis dari memori motorik (gerak). Ketika di bawah tekanan, mereka menganalisis (jadi berpikir saat gerak) alih-alih bereaksi saat melakukan gerak.

Keterampilan olahraga bergantung pada kecepatan dan kemampuan bereaksi. Memikirkan terlalu banyak tentang teknik atau taktik akan memperlambat waktu reaksi dan mengganggu koordinasi syaraf untuk bergerak yang biasanya mengalir otomatis. Semakin keras atlet berusaha untuk sempurna, semakin besar kemungkinan mereka tampil under perform dalam pertandingan.

Kenapa takut salah menyebabkan under perform?

Rasa takut membuat kesalahan dapat mempengaruhi proses pengambilan keputusan. Atlet ragu-ragu, bermain aman, atau menghindari tanggung jawab pada momen-momen krusial. Terkadang, mereka hanya menonton rekan se-tim bermain daripada ingin menjadi bagian dari permainan. Rasa takut ini sering kali berasal dari penilaian yang dirasakan dari orang lain. Reaksi dari pelatih, orang tua, atau rekan setim juga membentuk bagaimana dampak kesalahan dapat memengaruhi atlet. Ketika kesalahan terasa berbahaya, kepercayaan diri runtuh dan performa menjadi hati-hati sehingga mereka berupa menghindari kesalahan.

Atlet yang Percaya Diri Pun Bisa Tetap Under Perform

Atlet yang merasa percaya diri saat berlatih, dapat kehilangan kepercayaan diri saat bertanding. Mereka lebih nyaman dengan rutinitas latihan mereka. Kepercayaan diri dalam pertandingan membutuhkan keyakinan di bawah tekanan. Atlet-atlet ini fokus pada menghindari ketidaknyamanan daripada bermain dengan baik di saat itu. Ketika kenyamanan hilang, keyakinan pun hilang bersamanya.

Kepercayaan diri sejati mencakup kemampuan untuk pulih setelah terjadi kesalahan dan tetap “agresif” meskipun di bawah tekanan. Kompetisi berisiko tinggi meningkatkan konsekuensi bagi atlet. Playoff, pertandingan rivalitas, seleksi, dan acara unjuk gigi dapat  memperbesar tekanan. Atlet muda sering percaya bahwa satu pertandingan dapat menentukan masa depan mereka. Keyakinan ini dapat mengganggu fokus dan meningkatkan rasa takut akan kesalahan. Saat tekanan meningkat, performa menurun, kecuali mereka memiliki keterampilan mental untuk mengatasinya.

Apakah Orangtua Turut Meningkatkan Tekanan?

Anak-anak dapat memperhatikan reaksi orang tua dengan cermat. Ekspresi wajah, nada suara, dan diamnya orang tua dapat mengirimkan pesan kepada anak. Bahkan orang tua yang mendukung pun mungkin menekankan hasil tanpa menyadarinya. Atlet dapat lebih merasakan ekspektasi tersebut, alih-alih  sebagai dorongan pada atlet. Hal ini juga dapat meningkatkan tekanan dan memperkuat rasa takut akan kesalahan.

Apa yang Seharusnya Orang Tua Lakukan Ketika Anak Under Perform?

  • Orang tua sebaiknya tidak langsung membicarakan tentang hasil. Fokuslah pada usaha, keputusan, dan respons setelah kesalahan. Jaga agar pembicaraan setelah pertandingan dilakukan dengan singkat dan tenang. Terapkan aturan 30 menit untuk menghindari membicarakan pertandingan hingga atlet telah tenang (ketika atlet melakukan kesalahan).
  • Normalisasi kesalahan sebagai bagian dari perkembangan. Hal ini membantu kebebasan dan kepercayaan diri atlet. Bantu anak untuk mengidentifikasi tindakan yang dapat dikendalikan. Usaha, bahasa tubuh, komunikasi, dan fokus tetap berada dalam kendali mereka.
  • Sebelum pertandingan, pilih satu atau dua tujuan (goal setting) proses yang sederhana. Tujuan yang jelas dapat mengurangi kekacauan mental dan kecemasan. Pendekatan ini meningkatkan performa di bawah tekanan.
  • Ajarkan cara mengendalikan tekanan saat latihan. Latihan berwaktu, kompetisi, dan konsekuensi kecil membangun toleransi terhadap tekanan dan ajarkan juga rutinitas reset sederhana. Atur napas, self talk-kata kunci, atau tindakan fisik dapat membantu atlet pulih dengan cepat. Persiapan mental harus mencakup menajemen stress, bukan hanya pengulangan (keterampilan)

Penutup

  • Ketika atlet muda tampil di bawah performa terbaiknya saat pertandingan, tekanan dan ekspektasi umumnya menjadi penyebab utamanya, bukan karena kurang bakat atau kurangnya usaha.
  • Orang tua yang mendukung proses daripada hasil dan usaha daripada ekspektasi dapat mengurangi tekanan secara langsung.
  • Atlet yang melatih keterampilan menghadapi tekanan akan tampil lebih dekat dengan potensi mereka. Pertandingan tidak lagi terasa seperti penilaian. Mereka menjadi kesempatan untuk berkompetisi dengan kepercayaan diri.

Referensi