Dalam dunia sport performance modern, peningkatan performa sering kali direduksi menjadi angka lebih cepat, lebih kuat, dan lebih eksplosif. Namun di balik semua itu, ada satu fondasi yang kerap luput dari perhatian, padahal sangat menentukan keberlanjutan performa seorang atlet: movement quality.
Untuk membahas topik ini lebih dalam, kami berbincang dengan Achmed Kevin Syahlintang, BSc, MSc, seorang praktisi dan peneliti di bidang sport performance yang menempuh pendidikan di Loughborough University dan saat ini sedang menyelesaikan studi doktoralnya di University of Salford. Fokus keahliannya meliputi physical demand analysis, physical assessment, serta sprint biomechanics dan sprint training bidang yang menempatkan kualitas gerak sebagai elemen kunci sebelum intensitas latihan ditingkatkan.
Dalam wawancara ini, Coach Kevin membagikan pandangannya tentang bagaimana movement quality seharusnya dipahami oleh pelatih, bagaimana perannya dalam performa dan pencegahan cedera, serta bagaimana cara menilainya dan mengintervensinya secara realistis di lapangan.
Movement Quality dalam Konteks Sport Performance
Movement quality dalam sport performance tidak cukup dipahami sebagai gerakan yang terlihat “benar” secara teknis. Menurut Coach Kevin, definisi yang lebih relevan justru terletak pada konteks tuntutan olahraga itu sendiri.
“Movement quality itu bukan soal bagus atau tidaknya gerakan di mata pelatih, tapi soal seberapa efektif atlet bergerak untuk menyelesaikan tuntutan spesifik olahraganya,” jelasnya.
Ia menyoroti bahwa banyak pendekatan tradisional masih terpaku pada tes statis seperti ankle mobility, hip mobility, atau overhead squat. Padahal performa olahraga terjadi dalam kondisi dinamis, berkecepatan tinggi, dan penuh variabilitas. “Atlet tidak bertanding di ruang tes. Mereka berlari, berakselerasi, deselerasi, dan berubah arah di situasi nyata,” tambah Coach Kevin.
Karena itu, movement quality seharusnya dinilai pada gerakan yang benar-benar menentukan performa, bukan hanya pada pola gerak terisolasi.
Mengapa Movement Quality Harus Didahulukan Sebelum Intensitas Tinggi
Menurut Coach Kevin, movement quality menjadi fondasi sebelum atlet masuk ke latihan berintensitas tinggi atau latihan yang sangat spesifik cabang olahraga. Hubungan antara teknik gerak dan risiko cedera sudah terlalu kuat untuk diabaikan.
“Kalau fondasi geraknya tidak efisien, intensitas tinggi hanya akan memperbesar masalah yang sudah ada,” ujarnya.
Namun ia menekankan pentingnya konteks waktu. Di tengah musim kompetisi, misalnya, perubahan teknik yang terlalu agresif justru bisa mengganggu performa. “Bukan berarti teknik tidak penting, tapi kita harus tahu kapan memperbaiki dan kapan menjaga stabilitas performa,” jelas Coach Kevin.
Pendekatan yang matang bukan sekadar memperbaiki teknik, melainkan menyesuaikan intervensi dengan fase latihan dan kondisi atlet.
Bottleneck Movement Quality dalam Sprint
Sprint adalah salah satu komponen performa yang paling sensitif terhadap kualitas gerak. Dari pengalamannya, Coach Kevin sering menemukan bottleneck yang relatif serupa, khususnya pada atlet olahraga beregu.
“Banyak atlet terlalu knee-dominant atau ankle-dominant karena glute-nya tidak benar-benar engaged,” ungkapnya.
Akibatnya, dorongan gaya ke tanah menjadi kurang efisien, terutama pada fase akselerasi awal. Pola ini membuat atlet bekerja lebih keras untuk output yang relatif sama. “Dalam jangka panjang, ini bukan cuma soal lambat, tapi juga soal distribusi beban yang tidak ideal ke jaringan tertentu,” tambah Coach Kevin.
Dampak Fatigue terhadap Efisiensi Sprint
Saat fatigue muncul, movement quality hampir selalu mengalami penurunan. Coach Kevin menjelaskan bahwa riset menunjukkan adanya penurunan step length, step frequency, dan kecepatan sprint, disertai peningkatan ground contact time.
Di lapangan, perubahan ini mudah dikenali secara visual. “Biasanya atlet terlihat lebih ‘nempel ke tanah’, kurang reaktif, dan kehilangan bounce,” jelasnya. Reaksi terhadap ground contact menjadi lebih lambat, sehingga setiap langkah membutuhkan energi lebih besar untuk menghasilkan output yang sama.
Movement Quality dan Risiko Cedera
Coach Kevin menggarisbawahi bahwa hubungan antara movement quality dan cedera kini semakin kuat secara ilmiah. Salah satu riset yang ia soroti adalah penelitian Christopher Bramah (2025) terkait Sprint Mechanics Assessment Score (SMAS).
“Dalam studi pada 126 elite male footballers, atlet dengan skor SMAS lebih tinggi punya probabilitas cedera hamstring yang jauh lebih besar,” jelasnya. Setiap kenaikan satu poin SMAS dikaitkan dengan peningkatan risiko cedera sekitar 33 persen dalam enam bulan.
Menurut Coach Kevin, temuan ini memperjelas bahwa movement quality bukan sekadar isu estetika teknik, melainkan faktor nyata dalam manajemen risiko cedera.
Membedakan Masalah Kualitas Gerak dan Keterbatasan Kapasitas Fisik
Tidak semua hambatan performa berasal dari movement quality. Di level profesional, atlet umumnya harus melewati serangkaian battery of testing sebelum dinyatakan siap berlatih penuh.
“Testing itu mencakup mobility, strength, force production, kapasitas aerobic dan anaerobic, sampai health screening. Dari situ baru kita tahu masalahnya di mana.”
Coach Kevin menekankan pentingnya kolaborasi multidisipliner. Physio, dokter, dan strength coach memiliki peran dan sudut pandang berbeda, tetapi saling melengkapi dalam memahami kondisi atlet secara utuh.
Cara Menilai Movement Quality Secara Realistis di Lapangan
Untuk pelatih dengan keterbatasan alat dan waktu, assessment movement quality tidak harus kompleks. Video recording menjadi solusi yang paling realistis dan efektif.
“Sekarang semua orang punya smartphone yang bisa rekam 120 fps. Tinggal biasakan mata untuk menilainya.” -Coach Kevin
Metode seperti SMAS memungkinkan pelatih melakukan penilaian sprint mechanics dalam waktu singkat. Setelah terbiasa, assessment per atlet bahkan bisa dilakukan dalam waktu kurang dari lima menit, tanpa mengganggu alur latihan.
Mengintervensi Movement Quality Tanpa Mengorbankan Performa
Meningkatkan movement quality tidak selalu berarti menambah sesi latihan. Salah satu pendekatan paling efektif adalah microdosing, terutama di tengah musim kompetisi.
“Progress itu bisa kelihatan dalam 4 sampai 8 minggu, bahkan dengan satu sesi teknik per minggu.”
Coach Kevin menjelaskan bahwa intervensi dapat disisipkan dalam pemanasan, sesi strength training sebagai primer atau prehab, maupun rutinitas ringan di luar sesi utama. Pendekatan kecil yang konsisten sering kali memberikan dampak lebih besar dibanding perubahan besar yang jarang dilakukan.
Penutup: Movement Quality Bukan Sekadar Teknik, tapi Fondasi Keputusan Latihan
Dari seluruh pembahasan di atas, satu benang merah menjadi jelas: movement quality bukan tentang mencari gerakan yang terlihat “paling benar”, melainkan tentang memahami seberapa efektif tubuh atlet memenuhi tuntutan performa di kondisi nyata. Sprint, deselerasi, perubahan arah, hingga respons terhadap fatigue bukan sekadar ekspresi kekuatan atau kapasitas, tetapi cerminan dari kualitas gerak yang menopangnya.
Seperti yang ditekankan Coach Kevin, penurunan performa, peningkatan risiko cedera, dan inefisiensi energi sering kali bukan muncul karena atlet kurang kuat, melainkan karena fondasi geraknya tidak cukup siap menerima intensitas. Inilah mengapa movement quality seharusnya tidak diposisikan sebagai tahap awal yang cepat dilewati, tetapi sebagai lensa dalam membaca kesiapan atlet sepanjang musim.
Namun, memahami pentingnya movement quality baru setengah dari perjalanan. Tantangan berikutnya bagi pelatih adalah menerjemahkan konsep ini ke dalam praktik sehari-hari. Bagaimana menilai kualitas gerak secara realistis di lapangan, bagaimana membedakan masalah teknik dan kapasitas fisik, serta bagaimana melakukan intervensi tanpa mengorbankan performa akan dibahas lebih lanjut pada bagian berikutnya.
Tentang Narasumber
Wawasan dalam artikel ini merujuk pada pengalaman praktik dan riset Coach Kevin Achmed Syahlintang, BSc, MSc, praktisi dan peneliti sport performance yang lulusan Loughborough University dan saat ini sedang menempuh studi doktoral di University of Salford. Keahliannya mencakup physical assessment, physical demand analysis, serta sprint biomechanics dan sprint training.

Selain itu, Coach Kevin aktif mendampingi atlet di berbagai cabang olahraga. Ia memiliki pengalaman melatih dalam sepak bola dan American football, serta pengalaman lintas disiplin di dunia track and field, basket, lacrosse, dan rugby. Pengalaman multigame ini memberikan perspektif yang luas dalam memahami kualitas gerak dan bagaimana teknik movement quality berperan dalam tuntutan performa yang berbeda-beda di setiap cabang olahraga.
