Menjadi seorang praktisi strength and conditioning (S&C) yang efektif bukan hanya tentang seberapa keras melatih atlet di lapangan, tetapi juga seberapa akurat mengukur perkembangan fisik mereka. Banyak pelatih berfokus pada hasil tes, namun sering kali melupakan bahwa kualitas data sangat bergantung pada konsistensi prosedur pengujian.
Di sinilah pentingnya standardisasi. Standardisasi perlu diterapkan mulai dari penentuan waktu tes, pemilihan alat, protokol pelaksanaan, hingga proses analisis data. Langkah ini krusial agar setiap perubahan performa yang terdeteksi benar-benar mencerminkan adaptasi atlet, bukan sekadar akibat kesalahan prosedur atau variasi dalam analisis data.
Kapan Waktu Terbaik untuk Menguji Atlet?
dealnya, pengujian kebugaran dilakukan pada awal siklus latihan pre-season untuk menyediakan data dasar (baseline) atlet. Pada fase ini, pengujian yang sama dapat dilakukan dua kali dengan jeda 2–7 hari untuk menetapkan nilai kesalahan pengukuran (measurement error) yang spesifik bagi atlet atau tim tersebut.
Selanjutnya, pengujian berkala dapat dijadwalkan pada akhir masa pre-season untuk mengevaluasi kesiapan kompetisi, atau selama musim kompetisi melalui pemantauan rutin sesuai kebutuhan program latihan.
Saat menjadwalkan tes berkala, pelatih perlu mengontrol tingkat kelelahan atlet. Idealnya, pengujian dilakukan setelah atlet mendapatkan waktu pemulihan yang cukup, setidaknya 48 jam setelah pertandingan atau sesi latihan intensitas tinggi terakhir.
Selain itu, atlet sebaiknya diuji pada waktu yang sama dalam sehari untuk meminimalkan pengaruh ritme sirkadian. Penelitian oleh Gauthier et al. (2001) [1] dan Onambele-Pearson & Pearson (2007) [2] menunjukkan bahwa ritme sirkadian dapat memengaruhi kekuatan otot dan kekakuan tendon.
Waktu pelaksanaan tes juga dapat memengaruhi kontribusi sistem energi terhadap performa. Sebagai contoh, Souissi et al. (2007) [3] menemukan bahwa performa pada tes Wingate 30 detik cenderung lebih baik pada sore hari dibandingkan pagi hari.
Pemilihan Alat: Menyeimbangkan Kebutuhan dan Aksesibilitas
Peralatan laboratorium dengan status gold standard tentu menjadi pilihan ideal. Namun dalam praktik lapangan, keterbatasan akses, waktu, dan biaya sering kali membuat pelatih perlu menggunakan alternatif yang lebih praktis.
Kabar baiknya, berbagai alat lapangan telah terbukti valid untuk mengukur komponen kebugaran tertentu. Sebagai contoh, Yo-Yo Intermittent Recovery Test (YIRT) dan Multi-Stage Fitness Test (MSFT) dapat digunakan sebagai alternatif lapangan untuk memperkirakan kapasitas aerobik tanpa perlu analisis gas langsung, sebagaimana dilaporkan oleh Krustrup et al. (2003) [4] dan Ramsbottom et al. (1988) [5].
Pada pengukuran tinggi lompatan vertikal, force platform masih menjadi gold standard, terutama ketika tinggi lompatan dihitung menggunakan metode take-off velocity menurut Moir (2008) [6] dan García-López et al. (2013) [7].
Meski demikian, beberapa perangkat yang lebih terjangkau juga dapat digunakan, antara lain:
- Photoelectric cell
- Jump mat
Photoelectric cell terbukti menghasilkan estimasi tinggi lompatan yang sangat mendekati force platform [8]. Sementara itu, jump mat menunjukkan reliabilitas yang baik meskipun akurasinya relatif lebih rendah [9,10].
Dalam penggunaannya, pelatih dapat menerapkan persamaan koreksi yang telah dipublikasikan dalam literatur untuk meningkatkan akurasi hasil pengukuran. Namun demikian, Kenny et al. (2012) [11] melaporkan bahwa akurasi jump mat menurun pada jenis lompatan dengan waktu kontak yang sangat singkat, seperti drop jump. Selain itu, Whitmer et al. (2015) [12] menunjukkan adanya penurunan akurasi pada atlet dengan kemampuan lompatan yang sangat tinggi.
Urutan Pengujian dan Pemrosesan Data
Dalam satu sesi testing, urutan pelaksanaan tes perlu dirancang berdasarkan tingkat kelelahan yang ditimbulkan oleh masing-masing pengujian. Tujuannya adalah mencegah hasil suatu tes dipengaruhi oleh kelelahan yang berasal dari tes sebelumnya.
Secara umum, urutan yang direkomendasikan adalah sebagai berikut:
- Antropometri dan komposisi tubuh
- Tes keterampilan, kecepatan, atau daya ledak (jump, agility, sprint)
- Tes kekuatan maksimal (dinamis maupun isometrik)
- Tes daya tahan otot atau kapasitas aerobik
Urutan ini membantu menjaga kualitas data pada setiap komponen yang diukur.
Selain pelaksanaan tes, standardisasi proses analisis data juga memiliki peran yang sama pentingnya. Data yang baik tidak hanya berasal dari pengukuran yang konsisten, tetapi juga dari metode analisis yang konsisten.
Sebagai contoh, pada analisis kurva gaya-waktu (force-time curve) dalam tes lompatan vertikal menggunakan Microsoft Excel, pelatih perlu menerapkan metode yang sama dalam menentukan berat badan, onset of movement, braking phase, dan propulsive phase.
Konsistensi dalam proses ini penting untuk memastikan bahwa perubahan nilai yang muncul benar-benar berasal dari perubahan performa atlet, bukan akibat perbedaan metode analisis. Pendekatan tersebut dijelaskan lebih lanjut oleh Owen et al. (2014) [13] dan McMahon et al. (2018) [14].
Penutup
Standardisasi pengujian fisik bukan sekadar prosedur administratif dalam athlete assessment. Standardisasi merupakan fondasi utama untuk menghasilkan data yang valid, reliabel, dan dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam program latihan.
Tanpa standardisasi yang baik, pelatih berisiko salah menginterpretasikan perubahan performa atlet. Oleh karena itu, perhatian terhadap waktu pengujian, pemilihan alat, urutan pelaksanaan tes, serta metode analisis data harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses monitoring dan evaluasi performa atlet.
Referensi
- Gauthier A, Davenne D, Martin A, Van Hoecke J. Time of day effects on isometric and isokinetic torque developed during elbow flexion in humans. Eur J Appl Physiol. 2001;84:249–52. https://doi.org/10.1007/s004210170014
- Onambele-Pearson NLG, Pearson SJ. Time-of-day effect on patella tendon stiffness alters vastus lateralis fascicle length but not the quadriceps force–angle relationship. J Biomech. 2007;40:1031–7. https://doi.org/10.1016/j.jbiomech.2006.04.001
- Souissi N, Bessot N, Chamari K, Gauthier A, Sesboüé B, Davenne D. Effect of Time of Day on Aerobic Contribution to the 30‐s Wingate Test Performance. Chronobiol Int. 2007;24:739–48. https://doi.org/10.1080/07420520701535811
- KRUSTRUP P, MOHR M, AMSTRUP T, RYSGAARD T, JOHANSEN J, STEENSBERG A, et al. The Yo-Yo Intermittent Recovery Test: Physiological Response, Reliability, and Validity. Med Sci Sports Exerc. 2003;35:697–705. https://doi.org/10.1249/01.MSS.0000058441.94520.32
- Ramsbottom R, Brewer J, Williams C. A progressive shuttle run test to estimate maximal oxygen uptake. Br J Sports Med. 1988;22:141–4. https://doi.org/10.1136/bjsm.22.4.141
- Moir GL. Three Different Methods of Calculating Vertical Jump Height from Force Platform Data in Men and Women. Meas Phys Educ Exerc Sci. 2008;12:207–18. https://doi.org/10.1080/10913670802349766
- García-López J, Morante JC, Ogueta-Alday A, Rodríguez-Marroyo JA. The Type Of Mat (Contact vs. Photocell) Affects Vertical Jump Height Estimated From Flight Time. J Strength Cond Res. 2013;27:1162–7. https://doi.org/10.1519/JSC.0b013e31826520d7
- Glatthorn JF, Gouge S, Nussbaumer S, Stauffacher S, Impellizzeri FM, Maffiuletti NA. Validity and Reliability of Optojump Photoelectric Cells for Estimating Vertical Jump Height. J Strength Cond Res. 2011;25:556–60. https://doi.org/10.1519/JSC.0b013e3181ccb18d
- Nuzzo JL, Anning JH, Scharfenberg JM. The Reliability of Three Devices Used for Measuring Vertical Jump Height. J Strength Cond Res. 2011;25:2580–90. https://doi.org/10.1519/JSC.0b013e3181fee650
- McMahon JJ, Jones PA, Comfort P. A Correction Equation for Jump Height Measured Using the Just Jump System. Int J Sports Physiol Perform. 2016;11:555–7. https://doi.org/10.1123/ijspp.2015-0194
- Kenny IC, Cairealláin AÓ, Comyns TM. Validation of an Electronic Jump Mat to Assess Stretch-Shortening Cycle Function. J Strength Cond Res. 2012;26:1601–8. https://doi.org/10.1519/JSC.0b013e318234ebb8
- Whitmer TD, Fry AC, Forsythe CM, Andre MJ, Lane MT, Hudy A, et al. Accuracy of a Vertical Jump Contact Mat for Determining Jump Height and Flight Time. J Strength Cond Res. 2015;29:877–81. https://doi.org/10.1519/JSC.0000000000000542
- Owen NJ, Watkins J, Kilduff LP, Bevan HR, Bennett MA. Development of a Criterion Method to Determine Peak Mechanical Power Output in a Countermovement Jump. J Strength Cond Res. 2014;28:1552–8. https://doi.org/10.1519/JSC.0000000000000311
- McMahon JJ, Suchomel TJ, Lake JP, Comfort P. Understanding the Key Phases of the Countermovement Jump Force-Time Curve. Strength Cond J. 2018;40:96–106. https://doi.org/10.1519/SSC.0000000000000375
